Tukang Pijat Keluarga Kami Pergi untuk Selamanya

Kemarin lusa, Minggu (9/2), kami sekeluarga dibuat kaget. Malam itu, ada telepon dari Eyang Uti di Jakarta, mengabari berita duka: Pak Bubun meninggal dunia dua hari lalu. Kami sempat terdiam. Kaget sekaligus mahfum sambil berkata lirih: ‘dia sudah kelihatan lemah waktu terakhir mijat.’

Pertemuan terakhir kami terjadi pada 30 Januari lalu. Pak Bubun seperti biasa datang ke rumah untuk memijat kami semua: saya, suami, dua anak kami, dan Eyang Uti yang kebetulan sedang bertandang ke Bogor. Setelah Pak Bubun pulang, kami bertukar cerita. Intinya semua sepakat bahwa penampakan Pak Bubun hari itu tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan bugar.

Saat tiba di rumah, raut mukanya lebih pucat. Nafasnya kerap tersengal, keringat membasahi wajah meski cuaca mendung. Dia beberapa kali mengeluh sering kesulitan BAB dan perut terasa membesar. Rasa kembung juga tak kunjung mereda. Eyang Uti menduga jangan-jangan ada batu empedu.

‘Gejalanya mirip yang pernah ibu rasakan. Pak Bubun harus segera cek ke dokter internis ya, untuk memastikan penyakitnya,’ kata Uti menasehati dia yang direspons dengan menjawab,” oh ke internis ya. Pake BPJS bisa?’

Hari itu beberapa kali dia minta waktu untuk rehat sejenak, sekadar mengatur nafas. Padahal biasanya, dia sanggup memijat maraton 4 orang dan hanya diselingi rehat makan siang. Perilakunya hari itu memang tak biasa. Dia betul-betul nampak kepayahan. Saat selesai memijat, dia minta waktu lagi untuk sekadar duduk mengatur nafas, sebelum beranjak pulang.

Tukang pijat andalan keluarga kami (foto: P. Hasudungan Sirait)

‘Istirahat sebentar ya….’ desahnya. ‘Silakan Pak, lama juga gak apa-apa,’ kata saya yang beberapa kali menawari agar Pak Bubun mau naik ojek online ke terminal terdekat dari rumahnya. Dia menolak halus katanya: ‘Ah, bisa deh, bisa sampe rumah. Gak apa-apa kok. Kenapa atuh?’

Itulah Pak Bubun, meski sakit mendera dia tak mau merepotkan orang lain. Saat dia beranjak pergi, kami masih membicarakannya, akankah Pak Bubun kuat menempuh perjalanan hingga tiba di rumah. Pesan kami ke Pak Bubun untuk segera mengabari jika sudah tiba di rumah, dijawab dengan senyuman mengiyakan. Dia tak bertelepon, Asumsi kami, Pak Bubun sudah selamat sampai di rumah. Itulah percapakan terakhir dengannya. Tak ada kabar setelah itu, hingga kemudian kami dengar Pak Bubun telah berpulang kepada sang khalik.

Sebagai pelanggan setia, anak-anak pun dibuat shock dan sedih mendengar berita kematian bapak lima anak dan bercucu tujuh ini. Sudah lebih satu dekade, Pak Bubun rutin memijat kami sekeluarga, setidaknya saban bulan sekali. Anak-anaka krab bercakap denganya saat dipijat. Sering baru separuh jalan, mereka sudah tertidur lelap. Itulah yang membuat mereka kangen Pak Bubun.

Awal Perjumpaan

Sebelum saya menikah pada 2003 silam, dan hijrah ke Bogor, Pak Bubun sudah rutin memijat keluarga kami, khususnya kedua orang tua yang tinggal di Jakarta. Kala itu dia masih kuat menempuh perjalanan dari rumahnya di kitaran Cibadak, Bogor, Jawa Barat yang tak jauh dari kampus IPB, Dremaga. Biasanya Pak Bubun akan menginap barang 2 atau 3 hari.

Seiring berjalannnya waktu, Pak Bubun pun harus menyerah oleh usia yang menggerogoti. Dalam lima tahun terakhir, dia bilang terlalu capek kalau harus memijat ke Jakarta. Karena alasan stamina itulah, dia lalu hanya mengambil job memijat pelanggan yang tinggal di kitaran Bogor. Begitulah ceritanya bagaimana Pak Bubun akhirnya rutin sebulan sekali datang ke tempat tinggal kami di Bogor.

Pak Bubun bukan sekadar tukang pijat. Dia sudah seperti anggota keluarga kami saja. Melewati banyak waktu di rumah, dia menjadi saksi banyak peristiwa. Seperti kisah yang pernah disampaikan Eyang Uti beberapa waktu lalu. Suatu ketika, ibu kami tiba-tiba saja tersedak saat hendak  menyantap hidangan makan malam. Padahal menurut pengakuan Ibu, dirinya baru saja memasukkan sedikit saja panganan. Karena tersedak, Ibu menjadi sulit bernafas. “Seperti ada yang mencekik,” ujarnya.

Saat itu kebetulan pula Pak Bubun sedang on duty menginap di rumah. Seketika mendengar geger ibu tersedak, dia pun refleks berlari dari kamar di lantai dua memberi pertolongan pada ibu kami yang sedang berjuang keras mengatasi kesulitannya bernafas.

“Pak Bubun lari-lari, terus memijat-mijat punggung Ibu, sambil baca-baca (ayat Quran, Red.). Waktu itu Ibu susah sekali bernafas, kayak ada yang mencekik. Tapi, Alhamdulillah, berkat Pak Bubun, tak lama kemudian Ibu kembali bisa bernafas. Entah apa yang akan terjadi seandainya dia pas gak di rumah,” kenangnya.

Lain lagi kisah yang dikenang anak sulung kami, Kei. Dia mengaku masih ingat betul kapan Pak Bubun pertama kali memijatnya. Saat itu, Kei masih belum sekolah. Kami sedang bertandang ke rumahEyang Uti dan Pak Bubun kebetulan sedang menginap. Sore itu Kei pergi bermain bersama daddy dan sepupunya di lapangan semen dekat rumah.

Anak-anak senang jika Pak Bubun datang (foto: P. Hasudungan Sirait)

Ketika sedang berlari kencang, kakinya terpersok di lubang sehingga dia terjerembab keras dan dahinya membentur lapangan semen. Benjol di dahi sebesar bola bekel membuatnya menangis ketakutan. Tiba di rumah, Pak Bubun pun sigap menolong, memijat dahi bocah lima tahun tersebut hingga kempis.

“Itu yang aku ingat betul kapan Pak Bubun pertama kali mijat aku,” kata Kei pada malam saat kami mengenang kebersamaan dengan Pak Bubun.

Sebaliknya Pak Bubun juga gemar berbagi kisah tentang keluarganya. Dia sampaikan sembari memijat. Dalam setahun terakhir dia banyak bercerita tentang keadaan sang istri yang terserang gula parah hingga tak bisa lagi melihat.

“Saya kasihan lihatnya. Gak bisa apa-apa, di tempat tidur aja. Saya juga gak tahu mau gimana,” ujarnya. Pak Bubun kemudian berujar dialah yang kini mengambilalih segala pekerjaan sang istri, mulai dari mencuci pakaian dan piring, sesekali memasak, hingga memberihkan rumah. Anak-anaknya sudah mentas semua, dan berkeluarga.

Dia pernah bilang entah bagaimana nasib istrinya jika dia tak ada lagi. Kini, Pak Bubun telah betul-betul pergi. Dia, seperti terlihat pada perjumpaan kami terakhir, nampak lelah dan tak banyak bercakap. Barangkali jiwa dan raganya sudah meminta untuk diistirahatkan. Tentu kami sedih dan merasa kehilangan. Doa kami semoga Pak Bubun beristirahat dalam damai.

Rin Hindryati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.