Impian Membangun Kampung Global di Toraja

Kami kawan lama yang bertahun sudah tak bersua tapi sesekali masih saling bertukar kata lewat Facebook. Kemarin siang ia berkabar lewat Messenger: dirinya sedang di Jakarta, mengikuti pertemuan. Kami lantas mengatur jadwal kencan.

Selepas maghrib  kemarin, seusai mengajar di Kemang, aku menjambanginya. Tatkala tiba di lobi kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Salemba, kulihat ia sendiri saja. Sembari berhandphone’ ia tentu menanti diriku.

Kami melepas kangen dengan saling menanyakan keadaan dan kegiatan masing-masing. Dia ternyata tetap sibuk seperti sedia kala. Mengurusi warga di pedesaan Toraja, terutama di kawasan terpencil, fokusnya. Di usia yang sudah separuh abad (ia kelahiran Agustus 1964) ia masih saja lincah dan bugar. Kesimpulanku dari perbincangan kami yang sekitar 2 jam, diamasih seperti yang dulu: tetap bergairah melayanikhususnya mereka yang termarjinalisasi akibat keterisoliran.

Aleksander Mangoting kukenal untuk kali pertama di workshop yang diadakan Yakoma PGI di Jakarta beberapa tahun silam. Kala itu aku menjadi pemateri di sana. Kesanku waktu itu: lelaki bertinggi 160-an sentimeter ini pembelajar yang tekun dan gigih. Pengalaman praksisnya kaya karena sejak lama ia memang tenaga struktural dan lapangan  gereja.

Karya perdana (Foto: P. Hasudungan Sirait/Naskahkita)

Setelah putus kontak bertahun-tahun kami kemudian bisa berinteraksi lagi berkat Fb. Dari postingannya selama ini aku mengetahui bahwa ia masih tetap di lapangan pelayanan. Membesuk orang sakit, melayat, menghadiri acara pernikahan, itu antara lain kesibukannya selain mengurusi Kaum Bapak Gereja Toraja serta petani dan peternak di desa-desa. Tentu saja ia masih rajin menulis di media massa, media gereja, dan di media sosial.

MENULIS BUKU

Fokus pembicaraan kami semalam adalah menulis buku. Aleksander Mangoting menghasilkan kitab perdananya tahun lalu. Diterbitkan sendiri dengan biaya yang dihimpun dari sisa dana sejumlah program, judulnya Membangun Kampung Global. Bertebal 102 halaman, karya ini merupakan pokok-pokok pikirannya  sekian lama ihwal pembumian, terutama di Tanah Toraja, konsep ‘global village’ yang diperkenalkan ahli komunikasi Marshall McLuhan di tahun 1960-an lewat buku Understanding Media: Extension of A Man.

Dunia cenderung kian saling bersambungan hingga akhirnya laksana kampung sejagat. Penyebabnya? Kemajuan teknologi,  termasuk teknologi informasi. Demikian yang dibayangkan mcLuhan di tahun ’60-an. Perkiraan yang memang menyata di ‘zaman now’. Bagaimana mengembangkan kampung global, terutama di bumi Toraja, itulah lontaran pemikiran Aleksander Mangoting dalam buku pertamanya yang diberikanke aku tadi malam.

Buku perdana niscaya akan merangsang kitab berikutnya. Pengarang biasanya  akan terangsang untuk berkarya dan berkarya lagi. Aleksander Mangoting pun demikian. Ia berhasrat menuliskan kisah tentang orang-orang kecil yang selama ini berbuat banyak tanpa berkoar-koar untuk memajukan kaum jelata di Tanah Toraja. Cerita tentang seorang motivator yang selama puluhan tahun konsisten melayani di lapangan,  merupakan yang paling diprioritaskannya untuk menjadi buku. Perempuan motivator itu sosok yang sangat menarik di matanya sebab berbakti sangat lama sebagai relawan.

Membubuhkan tanda tangan (Foto: P Hasudungan Sirait/Naskahkita)

“Di Toraja mungkin dia satu-satunya motivator yang seperti itu,” ucap Aleksander Mangoting.

Sejumlah guru yang tersebar di pelbagai tempat di Toraja juga menjadi perhatian dia. “Selama ini mereka cederung diabaikan publik padahal banyak berbuat untuk memberdayakan warga, terutama di tempat-tempat terpencil.”

Sepakat aku bahwa cerita tentang perempuan motivator yang luar biasa itu serta kisah tentang para guru pemberdaya tersebut perlu diketengahkan lewat kitab. Kami lantas mendiskusikan teknis pengerjaannya.

Aleksander Mangoting sendiri rupanya memiliki sejumlah pengalaman lapangan yang menarik yang sebagian darinya telah ia tulis dalam bentuk laporan panjang. Pernah, misalnya, ia terlibat dalam penyidikan tentang perusakan hutan lindung di Tanah Luwu, Toraja oleh perusahaan pemegang Hak Penguasaaan Hutan (HPH). Lewat Gereja Toraja hasil investigasi itu mereka kirim ke Menteri Kehutanan dan ke Sekjen Komnas HAM Baharuddin Lopa. Sebagai tindak lanjut, Prof. Lopa kemudian menyurati Gubernur Sulawesi Selatan. Isinya, meminta agar perusakan hutan lindung dihentikan.

Dia juga pernah sebulan tinggal di Sabah, Malaysia, untuk menyelidiki bencana yang dialami orang Toraja di sana. Di lain kesempatan ia berangkat lagi ke Sabah untuk menyelidiki perdagangan orang Toraja. Laporan kedua kasus ini ia tulis.

Kukatan ke dia semalam bahwa laporan yang ia hasilkan selama ini sangat laik untuk dijadikan buku. Kalau tak bisa mandiri, beberapa tulisan itu digabungkan saja. Setelah dimutakhirkan, tinggal dikasih kata pengantar untuk mengikat semuanya agar menjadi satu perkisahan yang utuh.

Kuingatkan pula bahwa pengalamannya puluhan tahun sebagai sosok yang memberdayakan petani dan peternak di desa-desa terisolir, tak kalah menarik untuk dikitabkan. Jika dilengkai dengan foto-foto lapangan yang berbicara, menurutku, akan bertambah memikat. Selama ini penguatan yang dilakukannya senantiasa dengan memanfaatkan betul sumber daya setempat.

Giat bermedsos (Foto: P Hasudungan Sirait/Naskahkita)

“Setelah percakapan kita ini saya semakin ingin pensiun dini dari kedinasan di Gereja Toraja. Kalau sudah pensiun tentu saya akan leluasa menulis dan bepergian,” ucapnya.

“Mumpung masih bugar memang sebaiknya kita bertekun menulis. Kalau penglihatan sudah mulai rabun atau pendengaran telahberkurang, pengindraan yang optima tak bisa lagi kita lakukan. Padahal itu harus dilakukan oleh penulis yang baik,” jawabku.

Kami masih asyik bercakap tadi malam tatkala hp-nya berbunyi. Keluarganya mengingatkan bahwa mereka sudah menunggu dia dari tadi di rumah.

Aleksander Mangoting minta diri karena harus  segera berangkat ke Cilincing. Sesuai janji, di sana ia akan melewatkan malam.

Kami pun berjabat tangan setelah berjanji akan saling mengontak lewat media sosial. Aku pulang ke penginapan di Jl. Tendean, Jakarta, dengan membawa serta buku Membangun Kampung Global.  Ke diri sendiri aku berjanji akan segera menyimak isinya dan membuat tulisan tentangnya.

Sore tadi, seusai mengajar, itu kulakukan di pojokan sebuah kedai kopi bernama Di bawah Tangga, di Sarinah. Inilah hasilnya.

P Hasudungan Sirait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.