Di Medan, Menelantarkan Maestro Nahum Situmorang

(Penggal ke-1)

Begitu kagum dan hormat aku ke dia sekian lama (hampir 1/2 abad). Di mataku ia tak kalah hebat dibanding raksasa musik macam Bach, Schubert, Beethoven, atau Louis Armstong dan Miles Davis yang juga kusuka. Sebab itu kucari dia tadi pagi menjelang siang di Medan.

Celingukan. Sambil menapak pelan kusapukan pandangan dari lobang-lobang di tembok. Tulisan di nisan fokusnya atau gambar gitar di sana. Nihil, meski bolak-balik sudah aku melangkah.

Kantor kecil agak di tengah perkuburan akhirnya kudatangi sebab dari lantai 2 yang jendelanya terbuka sontak terdengar suara perempuan.

“Mau apa, Pak?” ucap 1 dari 3 perempuan berjilbab. Ia yang termuda di antara mereka.”

“Cari kuburan Pak Nahum; Nahum Situmorang. Lokasinya dimana ya? Ada tandanya: gambar gitar,” jawabku.

Ketiganya saling pandang sebelum menggeleng.

“Siapa dia; keluarga ya?” ucap perempuan yang tertua.

“Nahum itu pencipta lagu Batak. Saya penggemar beratnya,” lanjutku dengan nada yang disabar-sabarkan.

Perempuan terbelia berinisiatif. Ia menelepon seseorang.

“Di sebelah kanan, dekat sekolah. Di samping kuburan yang ada atapnya,” kata seorang lelaki yang suaranya kudengar dari pelantun hp.

Kuucapkan terimakasih ke ketiganya sebelum menuju lokasi dimaksud.

Sesungguhnya 2 kali sudah aku melintasinya. Hanya saja deretan luarnya semata yang kuperiksa. Nahum rupanya berkalang tanah di barisan ke-2 sehingga tak tampak kalau dilihat dari balik tembok yang menghadap Jl. Gajah Mada yang arus kendaraannya terus menderas.

Hati ini berdegub begitu bersua dengan yang dicari sedari tadi. Haru, pilu, dan sesal juga menyergap.

Nahum Situmorang (foto: James Pasaribu)

Jasad Nahum Situmorang, pencipta 100-an lagu Batak yang terbilang terbaik sepanjang masa, ternyata tidak berada di tempat yang istimewa. Sebaliknya malah. Adanya di perkuburan tua yang jauh dari terurus. Jarang sekali orang menziarahi makam bertulisan ‘requiescat in pace’ serta bergambar gitar.

Sebuah ironi yang sungguh merendahkan peradaban, tentunya. Aku merasa sangat bersalah selama menjepretinya. Pun tatkala diabadikan oleh penjaga makam bernama Jonny Hutahaean yang datang menghapiri. (Bersambung)

*Catatan: ini kutulis barusan di bus Sejahtera yang sedang melaju menuju Parapat-Ajibata, kampungku.

P. Hasudungan Sirait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.