Jelas, Penelantaran Pusara Nahum Situmorang Merupakan Pelecehan Peradaban!

(Penggal ke-2)

Lagu ciptaan komponis raksasa Nahum Situmorang tak kurang dari 120 buah. Merupakan rekaman suasana zaman, themanya dengan sendirinya aneka betul; bukan cinta melulu seperti karya-karya produk ‘zaman now’. Pilihan kata (diksi) lariknya serba terpilih-bertata. Begitupun, kesan berat dan ‘mumet’ tak membayang setelah semuanya meluruh menjadi satu perkisahan utuh. Iramanya? Puspa! Mulai dari yang sendu hingga yang girang sungguh. Kalau saja mencipta dalam bingkai-wacana keindonesiaan, bukan kebataktobaan, Nahum tak bakal kalah dibanding Ismail Marzuki sekalipun.

Soal apa saja bisa menjadi thema ciptaan bagi Nahum. Perempuan belia yang binal (’Sega Nama Ho’), suami yang memelas kepada sang istri agar dibukakan pintu saat dirinya kembali pulang-dari kedai tuak tatkala malam telah sangat larut [‘Parsorion ni parmitu’], rasa syukur seorang lelaki yang setelah Indonesia merdeka menjadi tentara padahal masih bocah tatkala yatim-piatu dan sebatang kara [‘Anak sasada tading maetek’], umpamanya.

Atau ihwal: maha pentingnya bersekolah [‘Anakkonhi do Hasangapon di Ahu’], bencana kelaparan [‘Haleon’], ratapan untuk ayahanda [‘Huandungma Damang’], solideritas sesama penikmat tuak [‘Lissoi’], dan peyakinan agar seorang pemuda tak galau lagi meski uang mahar yang harus dibayar orangtuanya membengkak akibat kebijakan pemotongan nilai rupiah (senering) yang diberlakukan pemerintah [‘Luahon Damang Ma’]. Itu baru beberapa contoh.

Dalam hal keanekaan thema, di khazanah lagu Batak Nahum hanya cocok diperbandingkan dengan Tilhang Gultom (pendiri dan pimpinan opera Batak Seni Ragam Indonesia—Serindo), Siddik Sitompul (Sdis; ia kakek biduan Christine Panjaitan), dan Ismail Hutajulu. Itu pun dengan catatan: dia tetap jauh lebih unggul baik dalam jumlah karya maupun kepopuleran.

Nahum Situmorang (foto: Gapura News)

Nahum memberi perhatian khusus pada sejumlah tempat [‘luat’ atau ‘luhak’]. Pulau Samosir (‘Pulo Samosir’) hanya salah satu dari sekian tempat yang diabadikan lajang abadi yang bersekolah di Hollandsche Indische Kweekschool (HIK, sekolah guru) Batavia tapi lulus dari HIK Bandung.

Atmosfir kehidupan di lembah Silindung, Tarutung (‘Molo Borngin di Silindung’, ‘Rura Silindung’, ‘Silindung Najolo’, ‘Dijou Ahu Mulak tu Rura Silindung’, dan ‘Rura Namasilate-latean’), Sarulla (‘Nauli Do Hape Namarbaju ni Sarulla’), Pahae (‘Luat Pahae Nauli’), Sidimpuan (‘Ketabo, Kebabo’), Mandailing Godang (‘Sitogol Sitogol’), Siborongborong-Humbang (‘Marombus-ombus Do’), Toba Holbung (‘Tabo Hape Naniura’), Labuhan Batu (‘Tung Mansai Borat’), dan kaldera Toba (‘O Tao Toba’) termasuk yang diabadikannya.

Tempat yang dijadikan thema lagu ini memang serba istimewa bagi seniman bersebutan ‘Guru Nahum’ yang menghasilkan dan menjajal karyanya di pakter (kedai) saat itu juga (istilah kekinian: prosesnya ‘live’).

Sebagai Situmorang, leluhur dari pihak ayah Nahum berasal dari Pulau Samosir. Adapun ibunya, boru Lumban Tobing, berkampung di Sampuran, Tarutung. ‘Tulang’ (paman) kandungnya adalah kepala negeri setempat yang juga tetangga mereka. Kepala Negeri itu adalah ‘amangtua’ (‘pakde’) Nan Robert boru Lumban Tobing (istri almarhum Brigadir Jenderal Justin Sinaga, mantan Sekwilda Timor-Timur asal Parapat yang lama berumah di Jl. Lombok, Bandung).

Meski lahir di Sipirok (pada 14 Februari 1908) Nahum menghabiskan masa kecil dan remajanya di Sampuran. Seusai merampungkan pendidikan di HIK Bandung, ke Tarutung-lah ia pulang. Di sana ia sempat mengajar di kursus bahasa Inggris yang dimiliki dan dijalankan abang kandungnya, Guru Sopar Situmorang. Tak mengherankan jika kelak Nahum banyak melukiskan alam ‘rura’ (lembah) Silindung—tempat Tarutung berada—nan sejuk-permai, dalam tembangnya.

Ihwal Pulau Samosir, satu saja karya yang ia hasilkan. Tentu bisa kita maklumi realitas ini. ‘Toh’ dia tak pernah bermukim lama, apalagi menetap, di semenanjung yang dipulaukan otoritas Hindia Belanda (tanah dipenggal agar menjadi terusan yang bisa dilalui sampan-perahu-kapal).

Masyarakat Sumut usulkan Nahum jadi pahlawan nasional (foto: Gatra)

Sebagai anak kelahiran Sipirok, lumrah kalau si pencipta ‘Nasonang Do Hita Nadua’ juga memerhatikan secara khusus tanah Angkola dan Mandailing yang melingkupinya. Begitu juga beberapa tempat di Sumatra Utara yang menjadi ranah jelajahnya sepindah dari Tarutung.

Nahum akhirnya lama menetap di Medan. Karirnya sebagai komponis berkibar dan berpuncak di sana. Sebagai warga kotamadya-lah dia saat ajalnya tiba di sana pada 20 Oktober 1969. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan Kristen di Jl. Gajah Mada, Medan, yang kuziarahi kemarin pagi.

Aneh tentu bahwa tak satu pun dari ciptaannya yang 120 buah lebih itu yang khusus melukiskan atmosfir kota terbesar ke-3 Indonesia; jadi, tidak seperti Silindung atau Angkola-Mandailing. Tentu saja geliat kehidupan keseharian di wilayah yang menjadi kewenangan para sultan Deli merupakan sumber penting gagasan dalam proses kreatifnya yang sungguh luar biasa.

SALAH TEMPAT BERKUBUR?

‘Pulo Samosir’ merupakan salah satu tembang mashyur karya komponis-Batak terkemuka, Nahum Situmorang. Penggalan liriknya adalah: ‘…./Laho pe ahu marhuta sada/ tung so pola leleng nga mulak ahu/ di parjalangan ndang sonang ahu da/ sai tu Pulo Samosir masihol ahu// Molo marujung ma/ muse ngolungku sai ingot ma/ anggo bangkenghu di si tanomonmu/ di si udeanku sarihon ma/.’

Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini: ‘…./Meski aku pergi ke kota lain/ sebentar saja pulang sudah aku/ di rantau diri ini gundah/ melulu hati tertuju pada Pulau Samosir// Kelak bila ajalku tiba/ ingatlah senantiasa/ adapun jenazahku di sana kaukuburkan/ di sana pusaraku; hiraukanlah/.’

TPU di Medan (foto: P Hasudungan Sirait/naskahkita)

Pinta terkait keberkalangtanahan di Pulau Samosir dalam karya berirama ceria ini apakah merupakan cetusan suara hari Nahum Situmorang sebagai pribadi? Entahlah: bisa iya bisa tidak. Tapi kalau merujuk syair ‘Pulo Samosir’ kita bisa mengatakan bahwa itu lebih merupakan dambaan dari mereka yang dilahirkan dan dibesarkan Pulo Samosir; harapan yang kemudian dirumuskannya dengan sangat piawai. Alasannya?

Di lirik itu disebut Pulau Samosir sebagai ‘haroroanhu’-‘asalhu’ (tempat asal kedatanganku). Juga dikatakan: ‘di sido pusokhi’ (di sana pusarku; tentu artinya: tanah kelahiranku), ‘pardengkeanhu-haumakki’ (tempatku menangkap ikan dan bertani’).

Adapun Nahum Situmorang, seperti yang telah kusebut tadi, ia lahir di Sipirok, menghabiskan masa kecil dan remaja di Sampuran-Tarutung, dan tak pernah menjadi nelayan-petani di Pulau Samosir.

Dengan penalaran seperti ini kita bisa berargumen bahwa realitas: ia tak dikebumikan di kampung nenek moyangnya di Samosir (saat ini telah menjadi kabupaten tersendiri) bukanlah mengabaikan atau menentang cetusan hati yang dimaktubkannya dalam ‘Pulo Samosir’. Maka, tak menjadi masalah serius sebenarnya kalau sejak tahun 1969 ia berkalang tanah di kuburan Kristen Jl. Gajah Mada. Yang menjadi perkara besar adalah perawatan pusaranya selama ini.

Dulu, terutama di tahun 1969 dan beberapa tahun sesudahnya, kuburan yang berada di jantung kota itu tentulah diurus dengan baik. Namun, seiring dengan perjalanan waktu yang sudah separuh abad, keadaannya telah sangat memburuk.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Jl. Gajah Mada, Medan, yang kulongok kemarin pagi sudah kelewat sesak, kurang terurus,dan jarang diziarahi meski penindihan jenazah sesekali masih berlangsung. Cerita yang kudengar, sekian lama pula ia menjadi tempat magkal kaum warya, begitu malam mendekap.

Seperti umumnya yang lain, pusara Nahum Situmorang, terlantar sudah bertahun-tahun. Dua penjaga TPU bercerita ke aku saat di sana bahwa selama ini jarang ada yang datang menjambanginya; tak juga keluarga dan unsur komunitas seni-budaya. Otoritas negara? Apalagi!

Penelantaran. Itu sebutan yang tepat untuk menggambarkan keadaan. Apa pun alasannya, menurutku, sungguh itu perlakuan yang kelewat tak pantas terhadap seorang jenius yang bersumbangan maha akbar dalam pembangunan peradaban orang Batak, khususnya klan Toba. Sekaligus juga pelecehan terhadap peradaban. Menurut Anda? (Bersambung)

*Tulisan ini baru saja kurampungkan di Pagarbatu, Ajibata, yang tadi keheningannya sesekali diusik deru mesin tukang cuci mobil di sebelah rumah ‘Inang’ (Ibu). Hujan deras baru saja turun. Untunglah.

P.Hasudungan Sirait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.