Jelas, Penelantaran Pusara Nahum Situmorang Merupakan Pelecehan Peradaban!

(Penggal ke-2)

Lagu ciptaan komponis raksasa Nahum Situmorang tak kurang dari 120 buah. Merupakan rekaman suasana zaman, themanya dengan sendirinya aneka betul; bukan cinta melulu seperti karya-karya produk ‘zaman now’. Pilihan kata (diksi) lariknya serba terpilih-bertata. Begitupun, kesan berat dan ‘mumet’ tak membayang setelah semuanya meluruh menjadi satu perkisahan utuh. Iramanya? Puspa! Mulai dari yang sendu hingga yang girang sungguh. Kalau saja mencipta dalam bingkai-wacana keindonesiaan, bukan kebataktobaan, Nahum tak bakal kalah dibanding Ismail Marzuki sekalipun. Continue reading

Di Medan, Menelantarkan Maestro Nahum Situmorang

(Penggal ke-1)

Begitu kagum dan hormat aku ke dia sekian lama (hampir 1/2 abad). Di mataku ia tak kalah hebat dibanding raksasa musik macam Bach, Schubert, Beethoven, atau Louis Armstong dan Miles Davis yang juga kusuka. Sebab itu kucari dia tadi pagi menjelang siang di Medan. Continue reading

Tragik Amir Hamzah

Pekan barusan aku 5 hari penuh di kitaran Padang Bulan, Medan. Kalau saja lintasannya tak kelewat acap dibekap kemacetan, tak sampai setengah jam saja sebenarnya berkendaraan dari kawasan ini ke Binjai. Jaraknya sekitar 22 Km saja. Binjai, kota yang dulu identik dengan rambutan merah besar nan manis-lekang [ngelotok], adalah tanah kelahiran dan kematian penyair besar Tengku Amir Hamzah. Continue reading