Kartini Multitasking Masa Kini

Oleh Dian Yulia Kartikasari*

Sang Kartini muda itu berlari tergopoh-gopoh. Flat shoes yang ia kenakan tetap tidak mempercepat langkah kakinya menuruni tangga halte Trans-Jakarta. Sembari bergegas sempat juga ia berkhayal bisa naik skateboard untuk mengejar busway yang baru saja tiba di halte Grogol menuju Semanggi. Untunglah: dalam momen kritis ia berhasil menyeberangkan badan ke angkutan yang ternyata sudah sangat sesak.

Di dalam bus yang pengisinya lebih mirip sarden daripada manusia itu ia pun melamun, merunut kejadian sejak pulang kerja kemarin sampai detik terakhir.

Kemarin, selepas maghrib, ia baru meninggalkan kantor. Lantas ia bergegas menuju lift untuk menuju halte Trans-Jakarta terdekat menuju rumahnya di Tangerang. Sesampai di rumah pukul 21.00 lewat, ia langsung menjambangi kedua anaknya. Meski sudah berpiyama tidur, mereka tetap antusias menyambut dia.

multitasking1

Ilustrasi Wanita Multitasking  (blog.ecapiche.com)

 Setelah membersihkan muka ia mandi dan menyantap apa pun yang masih tersisa di meja. Masih lumayan sempat isi perut; terkadang ia lupa makan malam karena anak-anak sudah menunggu. Selalu berebut, kedua buah hatinya ingin menceritakan hari serunya di sekolah.

 Selepas mendengar cerita ia mengecek  PR serta buku penghubung mereka. Kini giliran dia untuk berkisah. Meski matanya sudah merah dan sesekali menguap anak-anak itu tetap saja  bersemangat mendengarkan Kartini idola mereka bertutur.

Seusai perang bantal dan keributan kecil memperebutkan selimut barulah kedua bocah tidur. Setelah urusan anak beres, Kartini kita yang mulai lowbatt beranjak ke ruang televisi untuk menemui suami. Ada kalanya suaminya pulang lebih awal dari dia; bisa juga sebaliknya.  Arah kantor berbeda sehingga saat kepulangan mereka pun tak sama. Mereka lalu berpaling ke meja makan untuk sekadar curhat atau berdiskusi ringan tentang hari itu. Secangkir kopi dan semangkok mie rebus bertelur dan beririsan cabe rawit menemani mereka mengisi waktu.

Perbincangan mereka tak lama sebab keduanya sudah sama-sama ngantuk dan lelah. Setelah saling cium pipi dan bibir, dengan langkah berat mereka pun  menuju peraduan.

Sebelum adzan subuh berkumandang, Kartini kita  sudah terbangun. Dengan rambut yang mencuat ke kanan dan kiri ia spontan menemani Bik Inah, pembantunya yang setia, menyiapkan sarapan.

Pukul 05.00, menjelang sarapan tersaji, ia membangunkan anak-anak dan suami. Pakaian mereka ia siapkan. Setelah bergantian mandi mereka pun duduk di meja makan. Terkadang Kartini kita bisa lupa makan karena harus mengurusi ini-itu. Hari ini pun demikian. Begitu anak-anak selesai makan dan tinggal memakai seragam ia pun langsung siap-siap berangkat. Hari sudah menjelang pukul 06.00.

Pengereman yang agak mendadak oleh sopir Trans-Jakarta sontak mengakhiri kembara angan Kartini kita. Ia melirik jam di hand-phone. Menjelang pukul 08.30. Dia masih di bus dengan kondisi laksana sarden kegerahan. Pipinya menggembung setiap ia mencoba mensugesti diri agar tetap berpikiran positif.

Di kantor Kartini kita bekerja sebagai staf admin. Setiap hari ia menangani semua urusan  surat-menyurat dan administrasi lainnya. Ia kerap mengangkat telepon saat  mengetik. Terkadang ia membuat janji dengan klien sambil menyiapkan ucapan ulang tahun untuk salah satu kolega bosnya. Ia membalas BBM [Blackberry]  dari salah satu klien perusahaannya sembari menunggu hasil fotokopi rancangan proyek departemennya yang akan ditampilkan dalam rapat Board of Director. Ada kalanya atasannya akan menginterupsi untuk keperluan lain saat dirinya sibuk merancang penggunaan anggaran sebuah proyek di departemennya. Kadang ia ingin berteriak tatkala bosnya meminta data tertentu di saat telepon berdering terus dan e-mail bermasukan laksana tak berkesudahan.

Seperti itulah ritme hidup Kartini kita dari Senin hingga Jumat. Ia baru bisa merasa lega jika weekend tiba.

***

Ilustrasi barusan menggambarkan kondisi kebanyakan wanita karier kita di masa sekarang. Agak ironis, tentunya. Dulu, di zamannya,  Raden Ajeng Kartini, sang putri dari Rembang, memperjuangkan hak kaumnya, yaitu agar para wanita di negeri kita ini beroleh kesetaraan dalam pendidikan, pekerjaan,  dan yang lain. Kini, ketika sebagian wanita Indonesia mendapatkan hak itu, masalah pelik ternyata muncul membayangi. Para wanita pekerja profesional, termasuk saya, seolah terjebak dalam suatu situasi dimana kita dituntut menjalankan multiple role sebaik mungkin. Dalam situasi seperti ini terkadang kita galau karena atas nama waktu yang rasanya tak pernah cukup kita harus menentukan pilihan dilematis: karir atau keluarga.

R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini  (cerebrobox.blogspot.com)

Tuntutan zaman, tuntutan ekonomi, atau tuntutan eksistensi diri, itu antara lain yang menyebabkan mengapa banyak wanita yang telah berumah tangga sekalipun akhirnya tetap bekerja. Kita seolah terjebak dalam putaran waktu dengan tingkat stres yang kurang lebih sama setiap harinya. Acap kali kita sampai melupakan waktu untuk diri sendiri. Pula waktu untuk bersosialisasi. Kita seolah terjebak dalam sebuah pola: rumah – jalan – kantor – jalan – rumah. Kita tak ubahnya sebuah mesin multitasking yang sudah disetel waktu dan pekerjaannya. Ya, menjadi mesin yang dituntut senantiasa harus berperforma optima. Jadi, lumrah saja kalau kita sering mengeluhkan bahwa  waktu 24 jam sehari itu tidak  cukup.

Lantas bagaimana cara kita mengatasi dilema ini? Menurut saya, kuncinya adalah komunikasi. Maksud saya, komunikasikanlah selalu segala sesuatunya.  Bertukar pikiranlah dengan pasangan dan anak-anak bagaimana yang terbaik untuk bersama. Bagi yang telah memiliki anak seperti Kartini kita tadi buatlah  kesepakatan dengan pasangan mengenai hal seperti:  pola asuh, jam belajar, siapa yang bertanggung jawab atas PR, atas pekerjaan rumah, atas pengawasan mereka. Kapan kita boleh melaksanakan me time atau sekedar berkumpul dengan teman lama, bicarakan dari hati ke hati. Buatlah komitmen bersama untuk menjalankannya secara bertanggungjawab.

Dalam persepsi saya, setinggi apa pun jabatan dan pendidikannya, seorang Kartini tetap harus menjalankan fungsinya sebagai perempuan rumah yang baik. Ia tetap perempuan yang bertanggung jawab terhadap perkembangan pola didik dan emosional anak-anaknya. Janganlah  karena terlalu bernafsu  memenuhi kebutuhan ekonomi kita justru melupakan faktor terpenting: keluarga—harta kita kita yang tak ternilai.

*Seorang ibu sekaligus profesional muda yang bekerja di Jakarta

One thought on “Kartini Multitasking Masa Kini

  1. Hallo Pak Har, apa kabar? wah ternyata tulisan saya sudah mampir disini.. Kapan2 bolehlah kita menulis lagi pak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.