Pesona Chairil Anwar

Selamat beribadah untuk kawan-kawan yang berpuasa.

Cerita tentang buku-buku sastra Indonesia baiklah kuteruskan. Masih soal Chairil Anwar yang kuidolakan.

HB Jassin menyebut Chairil pelopor Angkatan 45. Perintis jalan, pembentuk aliran baru, sekaligus yang paling berpengaruh di generasinya. Tak berlebihan pujian itu, menurutku.

Lewat eksperimen memermak kata untuk membuka horison tak terbatas serta mengarungi sagara luas individualisme, anak Medan berayah-ibu orang Payakumbuh itu telah meretas jalan bagi sastrawan-sastrawati sezaman. Sungguh ia pengilham. Sitor Situmorang, jurnalis muda yang dalam kembaranya terpikat oleh atmosfir Yogya tahun 1947, misalnya, menulis [dalam Sitor Situmorang—Seorang Sastrawan 45, Sinar Harapan, 1981]: “…Chairil Anwar dan Affandi adalah dua seniman yang kurasakan mengungkap zaman baru yang mekar dalam diriku, berpadu dengan segala potensi yang mencuat dalam pekik: Merdeka!”

Siapakah Chairil Anwar sang pembaru sastra Indonesia? Arief Budiman dan Pamusuk Eneste membicarakannya dalam karya mereka. Keduanya merujuk sumber yang sama yakni tulisan Sjamsulridwan—Kenang-kenangan: Chairil Semenjak Masih Kanak-kanak—di Mimbar Indonesia edisi Maret-April 1959. Karib semasih di Medan itu menggambarkan Chairil kecil sebagai anak berkemauan bebas yang tak sudi dikalahkan. Hidupnya berkecukupan karena ayahnya pegawai Belanda yang berkedudukan. Bapaknya sangat memanjakannya dengan cara meluluskan apa saja permintaannya. Tapi rumah bukan tempat yang nyaman bagi si anak gaul supel sebab ayah-ibunya cekcok tak berkesudahan sembarang waktu.

Selulus HIS Chairil si pelahap buku melanjut ke MULO, di Medan. Ternyata ayahnya kawin lagi. Ibunya pun minta cerai. Jengah, anak kelahiran 22 Juli 1922 itu, pindah ke Jakarta untuk melanjut ke kelas 2 MULO. Tahun 1941, waktu itu. Ibunya menyusul beberapa bulan berselang.

This slideshow requires JavaScript.

Di Ibukota, pergaulan keponakan Sutan Sjahrir itu meluas tanpa batas kelas, dengan warna advonturirisme mengental. Kelenturan, ketampanan, kecerdasan, dan bakat sastranya yang mencuat membuat dirinya disukai para lawan jenis. Petualangan asmara yang sudah ia mulai sejak di HIS berlanjut dengan keliaran yang jauh meningkat. Sekolahnya tidak klar karena di masa Jepang kiriman uang dari ayahnya sudah tak datang. Kehidupannya yang bergaya bohemian lantas berpuncak.

Dalam skripsi [di Fakultas Psikologi UI; berupa telaah karya menggunakan perspektif eksistensialisme] yang dikitabkan tahun 1976 menjadi Chairil Anwar Sebuah Pertemuan, Arief Budiman juga menggambarkan hari-hari terakhir Chairil. Rujukannya adalah kesaksian S. Soeharto, teman masa kecil Chairil di Medan. Sesudah diusir mertuanya, Chairil acap menumpang di kamar sumpek pelukis kere itu di Paseban. Didera penyakit parah—paru-paru dan tifus, antara lain—ke tuan rumahnya yang pengangguran tersebut penyair jenial itu uring-uringan dan mencak-mencak melulu.

Setelah terkapar 5 hari di CBZ [kini: RSCM], siang 28 April 1949 ajalnya tiba. Usianya baru 27 tahun. Padahal, menurut Sitor (1981), beberapa hari sebelum dirawat seadanya di CBZ, Si Binatang Jalang masih memperagakan kepadanya di Perpustakaan USIS Jakarta kiat menyolong karya Ezra Pound, WH Auden, dan yang lain.

Cap plagiat
Baru 2 tahun di Jakarta remaja Chairil sudah mulai beroleh nama di dunia kesenian-kebudayaan. Kendati menulis prosa juga, lewat puisilah dirinya mencuat. Puisi yang ditulisnya tak banyak. Menurut hitungan HB Jassin, 72 saja asli (1 dalam bahasa Belanda), 2 saduran, dan 11 terjemahan. Prosanya 7 yang asli (1 dalam bahasa Belanda), dan 4 terjemahan.

Buku pertamanya yang terbit adalah Deru Tjampur Debu (Pembangunan-Opbow, 1949). Tak sempat dilihatnya kumpulan puisi ini hadir berupa kitab cetakan. Pasalnya, alih-alih memenuhi permintaan penerbit terkemuka tersebut agar menambah lagi puisinya, dari 13, ia malah menghilang begitu saja sekian lama. HB Jassin-lah, menurut Pamusuk Eneste, yang kemudian menambahkan 14 sajak lagi.

Sebagai sastrawan Chairil Anwar tidak bernas. Apa pasal? Umurnya memang pendek. Lantas, ia penulis yang penuh penghayatan. Tak ada sajaknya yang sekali jadi. Terkadang sampai berbilang bulan ide sebuah syair ia matangkan di kepala. Seperti kata HB Jassin, menulis sebuah larik saja bisa berkali-kali sebab kata demi kata ia timbang benar; jarang yang tuntas satu tarikan nafas. Pasang-bongkar kata kerap ia lakukan termasuk untuk karya yang sudah dipublikasikan pun.

Standar dia memang tinggi. Wajar saja sebab sejak di HIS dirinya telah akrab dengan khazanah sastra kelas satu dunia. Karya para empu ia pelajari dengan saksama sejak dirinya masih belia. Studinya praktis tiada henti. Syair-syair para pujangga idola ia perbatinkan hingga merasuki sum-sum jiwanya. Slauerhoff dan Marsman, umpamanya, mendapat tempat istimewa di hatinya; warna keduanya pun kentara dalam karya-karyanya.

Akhirnya pembatinan itu memerosokkan sang penyair yang memesona. Secara post mortem Chairil Anwar banyak digugat. Entah mengapa memang ia sampai mengaku buah pena Archibald Macleish, RM Rilke, WH Auden, Hsu Chih-Mo, E. du Perron, dan yang lain yang diterjemahkan dengan ciamik sebagai karya sendiri. Dengan nada penuh simpati HB Jassin membahas secara komprehensif tuduhan plagiat itu dalam Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (edisi pertamanya tahun 1956). Aku bisa memahami apologi yang dibangun paus sastra itu kendati tetap sukar menerimanya.(Has)