Eksotisme Klenteng Hok Tek Bio

Oleh Teguh V. Andrew

Sepasang patung batu singa menyambut kedatangan siapa saja yang berkunjung ke Klenteng Hok Tek Bio. Tepat di kedua belah sisi patung itu terdapat dua bangunan kembar untuk pembakaran kertas. Sementara di  bagian plafonnya, dua buah lampion menggantung  menaungi bilah-bilah papan beraksara mandarin.

 

Sepasang Patung Singa, Penjaga Klenteng (Gambar : Ben K.C. Laksana)

Tak hanya ornamen-ornamen yang didominasi warna merah dan emas di sekitar pintu masuk yang menarik mata.  Bila jeli, para pengunjung akan melihat dekorasi atap yang klasik dan khas.  Tampak dua ekor naga hijau saling berhadapan dan mengarah pada cu (mustika) yang terdapat di tengah-tengahnya. Di ujung bubungan ada hiasan berbentuk ikan  dengan sulur-sulur bermotif teratai.

Namun kemeriahan ornamen berwarna-warni itu tampak kontras dengan keadaan ruang ibadah utama yang temaram. Arsitektur bangunan dan rumpun-rumpun bambu yang tertanam di halaman  membuat tak banyak sinar matahari yang dapat masuk ke dalam klenteng. Alhasil, sumber penerangan utama hanyalah beberapa lampu redup dan cahaya lilin.

Ketika melangkah masuk, aroma hio (dupa) langsung menyeruak. Udara di dalam bangunan utama berkabut asap sisa pembakaran hio dan lilin. Lantunan lagu yang mendayu-dayu terdengar menyatu dengan suasana klenteng yang temaram. Perpaduan ini menciptakan suasana khusuk yang sempurna untuk beribadah.

Sebenarnya tak sulit  untuk menemukan klenteng ini. Letaknya strategis,  di Jalan Suryakencana dekat Pasar Bogor. Dari pintu tol Jagorawi dibutuhkan waktu sekitar 10-15 menit saja.  Bila menggunakan mobil pribadi para pengunjung tinggal membelok ke kiri sebelum Tugu Kujang. Setelah itu lurus sampai memasuki lingkungan Pasar Bogor. Lalu belok ke kiri memasuki Jalan Suryakencana.

Bila menaiki kendaraan umum pilihlah jurusan yang melewati Pasar Bogor dan turunlah di pintu utama Kebun Raya Bogor. Dari sana tinggal menyebrang ke arah Jalan Surya Kencana, kira-kira 300 meter,  di sebelah kiri.

Setiap hari klenteng Hok Tek Bio buka mulai pukul 07.00-18.00. Pada hari biasa tak banyak orang yang datang. Namun pada Minggu dan setiap tanggal 1 dan 15  lebih banyak orang yang singgah di tempat  ini.

Puncak kunjungan para penganut Khonghucu ke sini menjelang Tahun Baru Imlek sampai Perayaan Cap Go Meh. Di masa itu para pengunjung tak hanya datang dari kitaran Bogor, tetapi juga dari Jakarta dan kota lain. Seturut namanya, banyak para penganut yang datang ke klenteng ini untuk memohon rezeki dan kebaikan dari sang pencipta.

Khusyu Bersembayang (Gambar : Ben K.C. Laksana)

Walaupun ramai dikunjungi, tak banyak yang mengetahui ihwal sejarah klenteng tua ini. Sampai sekarang pun tidak diketahui tahun pasti pendirian Klenteng Hok Tek Bio.  Beberapa orang menyebutkan secara spesifik―1672 dan 1862. Yang lain hanya memberikan kisaran setelah 1740 pasca pembantaian etnis Tionghoa di Batavia.

Tampaknya klenteng ini mulai berdiri sekitar abad ke-18 dan abad ke-19. Sebab bila kita amati, struktur bangunan Hok Tek Bio seperti burung walet. Gaya arsitektur ini termasuk klasik dan banyak ditemukan di Tiongkok Selatan dalam permukiman  pedagang Hokian di abad ke-18 an ke-19.

Mulanya luas bangunan klenteng hanya 18 x 10 m.  Selain ornamen-ornamen yang masih bertahan, terdapat paseban yang kini tinggal pondasi dan beberapa anak tangga.

Pemilihan lokasi klenteng ini ada  filosofinya. Letaknya tepat di mulut Istana Bogor yang ketika itu (sekarang pintu utama Kebun Raya Bogor) disamakan dengan pusat Kerajaan Pakuan-Pajajaran. Selain itu klenteng juga terletak  di kepala naga―bagian ujung kawasan pecinan―di antara Gunung Salak dan Gunung Gede.

Saat mendirikan klenteng, syahdan Hok Tek Ceng Sin membuat sebuah tulisan. Diguratkan di satu bilah papan yang dipancangkan pada sebuah bilik bambu lukisan itu. Kelak, ketika meninggal, ia  disemayamkan di bawah salah satu pohon beringin yang ketika itu masih berdiri di kiri-kanan jalan sekitar klenteng.

Sejak saat itu,  Hok Tek Cing Sien (alias Dewa Bumi) menjadi salah sosok dipuja bersama dewa-dewa lainnya, seperti Kwan Kong dan  Kwan Im.  Selain itu,  sosok lokal lain yang turut dipuja adalah Eyang Raden Surya Kecana yang dianggap sebagai leluhur penguasa wilayah Bogor. Pada saat dialihfungsikan menjadi Vihara Dhanagun pada masa Orde Baru simbol-simbol Budhisme, seperti Maitreya, Buddha Gautama, dan Avalokiteswara ikut diintegrasikan ke dalam klenteng ini.

Sekarang luas bangunan klenteng telah mencapai 635,5 m2. Sementara luas keseluruhan lingkungannya 1.241,25 m2. Bersamaan dengan perluasan bangunan klenteng dilakukan pula berbagai perubahan di sekitarnya.  Salah satu yang mencolok adalah letak  pintu gerbang. Pada awalnya pintu gerbang itu beporos dari selatan ke utara. Namun dengan alasan keamanan pintu lama itu ditutup dan diganti dengan  pintu baru di sebelah utara menghadap ke jalan Surya Kencana.

Secara umum bangunan klenteng terdiri dari tiga bagian yaitu halaman, bangunan utama, dan bangunan tambahan. Pada bangunan utama terdapat teras, ruang tengah, dan ruang suci utama. Ruang tengah berfungsi untuk meletakkan altar bagi Thian. Terdapat meja kayu di bagian depannya untuk meletakkan hio.

Di bagian tengah ruangan ini terdapat impluvium (ruang terbuka) berukuran 21 m2  yang berlantai lebih rendah sekitar 10 cm meter dari lantai di sekitarnya. Di pojok kanan ruangan dekat pintu masuk ada tempat penjualan peralatan ritual, seperti dupa dan lilin.

Ruang suci utama letaknya lebih tinggi dari ruang tengah. Terdapat tiga altar kayu dengan beberapa patung di atasnya. Di bagian depan altar ada dupa, tempat lilin, dan sesaji.

Pada bagian belakang terdapat ruang makan, dapur, dan toilet. Selain kedua ruangan itu, ada pula bangunan tambahan yang bagian atasnya terdapat ruang Dhammasala yang berfungsi sebagai tempat ibadah  dengan altar Sang Budha di bagian dalamnya.

Sebagai bangunan tua, klenteng ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. Sejak diterbitkannya Keputusan Presiden 6/2000 klenteng yang selama Orde Baru disebut Vihara Dhanagun ini boleh menggunakan kembali nama aslinya. Alhasil sejak itu, tempat ini mulai ramai dikunjungi penganut Khonghucu.

 

Lilin dan Lampion di Meja Altar (Gambar : Ben K.C. Laksana)

Hampir setiap tahun―kecuali 2011 Klenteng Hok Tek Bio menjadi pusat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh. Arak-arakan mengusung rumpang dan  toapekong menjadi sajian utama. Berbagai kesenian Tionghoa, Sunda, dan Betawi ditampilkan  mengiringi peserta berarak di sepanjang jalan Suryakencana.

Bukan hanya sekadar hiburan dan sajian budaya, prosesi ini sesungguhnya telah menjadi pesta rakyat yang ditunggu-tunggu banyak kalangan. Bukan hanya oleh kaum Tionghoa, tetapi juga penduduk sekitar yang umumnya Sunda. Sebuah cerminan keharmonisan komunitas  majemuk yang hidup berdampingan selama berabad-abad.

One thought on “Eksotisme Klenteng Hok Tek Bio

  1. Pingback: 7 Tempat Wisata Sejarah di Bogor – www.Berita3News.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.