Naga Bonar dan Rivalitas Kelompok-Kelompok Laskar di Sumatera Utara

Oleh :  Teguh V. Andrew

Pagi itu sirene tanda berakhirnya jam malam telah berbunyi. Seketika itu juga beberapa orang berhamburan keluar dari sebuah pintu kayu bangunan besar yang dijaga oleh para serdadu Jepang. Namun di antara kerumunan orang yang baru keluar dari pintu itu terdapat dua pria yang berjalan gontai seakan setengah hati meninggalkan bangunan besar.  Seorang di antaranya adalah laki-laki berambut ikal, berkulit hitam, berwajah keras, dan berperut buncit. Ia mengenakan topi cokelat lusuh yang dipadankan dengan kemeja yang tak dikancing penuh dan celana bahan yang telah kusam.

Bersama seorang kawannya, ia menyusuri jalan besar yang masih lenggang sambil berbicara keras-keras tentang apa saja.

 Sejurus kemudian ia berpapasan dengan dua orang prajurit Jepang yang mabuk. Lukman―nama sahabatnya itu―berusaha untuk menghindar. Namun pria yang tampak sangar itu menariknya. Mereka kemudian mendekati serdadu Nippon.

Salah Satu Adegan dalam film Naga Bonar
(www.indonesiancinematheque.blogspot.com)

Sebelum memberikan hormat laki-laki itu membuka topinya terlebih dahulu. Namun ketika dua serdadu Nippon itu membalas salam, seorang di antaranya terjatuh. Spontan sahabatnya  menolong dengan mengulurkan tangan. Si pria yang berambut ikal juga bertindak. Ia memegang tangan kanan serdadu Jepang.

Ketika telah berdiri dengan sempurna, kedua serdadu Nippon berterimakasih. Pria berambut ikal itu membalas ucapan itu dengan memegang tangan kanan prajurit itu dengan kedua belah lengannya. Sementara Lukman hanya membalasnya dengan hormat gaya Jepang. Setelah itu mereka kemudian melanjutkan perjalanan.

Pria berambut ikal itu sebenarnya telah menggambil arloji prajurit Jepang yang ditolongnya tadi. Kedua sahabat itu kemudian menuju warung kopi di salah satu sudut kota. Sampai di sana kedua sahabat itu disambut oleh orang-orang yang sedang berkumpul.

Seorang pria berambut klimis, berkemaja bersih, dan bergaya necis berbicara di tengah orang-orang-orang  yang berkumpul di warung kopi itu dan membacakan puisi yang dibuatnya sendiri.  Inti dari pembicaraan itu adalah Indonesia telah merdeka dan para pemuda―termasuk yang berkumpul di warung kopi itu― harus bangkit untuk melawan pasukan sekutu yang membawa serta tentara Belanda.

Sejak saat itu, pria berambut ikal itu menjadi pimpinan laskar yang diawaki oleh orang-orang yang berkumpul di warung kopi itu. Kelak ia menabalkan dirinya sendiri dengan sebutan Jenderal Naga Bonar dan berperang melawan tentara Sekutu dan Belanda.

Cendawan di Musim Penghujan

Film Naga Bonar yang diproduksi pertama kali pada 1987 merupakan cerita fiksi yang terinspirasi dari tokoh-tokoh laskar yang ada di Sumatera Utara pada awal kemerdekaan. Asrul Sani penulis skrenario film yang diproduksi ulang pada 2008 itu mengakui bahwa sosok Jenderal Naga Bonar terinspirasi dari sosok Timur Pane,, pimpinan laskar Legiun Pengempur  Naga Terbang.

Poster Film Naga Bonar (1987)
(www.sejakdoeloe.multiply.com)

Sejak zaman pendudukan Jepang kelompok-kelompok kelaskaran ini telah bermunculan dan terus menjamur ketika masa awal kemerdekaan. Mereka tidak hanya datang dari kelompok semi-militer dan militer bentukan Jepang (seperti Heiho, Keibodan, dan Seindedan), tetapi juga dari organisasi-organisasi politik dari berbagai aliran (Hizbullah, Napindo atau Pesindo). Laskar-laskar ini ada juga dipimpin oleh sosok-sosok yang bergelut di dunia hitam, termasuk pencopet.

Kiprah berbagai kelompok laskar ini dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan tampak terang sejak pecahnya pertempuran Medan Area (13 Oktober 1945- 28 Juli 1947).  Bersama tentara republik, kelompok- kelompok laskar rakyat yang beroperasi di wilayah kekuasaan masing-masing berhasil membendung kekuatan pasukan sekutu. Tidak hanya itu, pasukan gabungan  ini juga membuat Aksi Polisionil I Belanda di Sumatera Utara tidak terlalu mulus. Bahkan dalam sebuah pertempuran pasukan Belanda berhasil dipukul mundur dan kemudian meninggalkan Medan melalui Pelabuhan Belawan.

Namun keputusan untuk mundur merupakan langkah awal yang diambil oleh tentara Belanda untuk melancarkan serangan balasan dari arah lain. Setelah meninggalkan Medan, pasukan Belanda menyusuri  Selat Malaka ke arah selatan dan berlabuh di Pantai Cermin. Mereka kemudian bergerak masuk ke Tebing Tinggi dan menyerbu Pematang Siantar. Serangan ini membuat tentara republik dan berbagai kelompok laskar lainya  tercerai-berai (Sirait, 2008).

Belakangan dampak dari serangan Belanda itu membuat sebagian besar kelompok laskar terpaksa mengungsi[i] ke daerah pedalaman. Bertumpuknya berbagai kelompok laskar dalam satu tempat menimbulkan berbagai masalah baru. Koordinasi di antara kelompok-kelompok laskar hampir tak ada. Pembagian wilayah kekuasaan tidak jelas. Masing-masing kelompok laskar ingin menunjukkan hegemoninya. Mereka pun ingin menguasai daerah-daerah penghasil bahan makanan, terutama beras.

 Bedjo versus Malau

Persaingan di antara kelompok-kelompok laskar di wilayah pengungsian itu tak jarang menimbulkan konfik yang berujung pada perang saudara di antara sesama mereka. Salah satunya adalah pertikaian antara Divisi Banteng Negara pimpinan Liberty Malau dan pasukan Resimen I pimpinan Mayor Bedjo (bagian dari Brigade XII di bawah komando Letkol Ricardo Siahaan).

Sebelum Aksi Polisionil Belanda I, pasukan Liberty Malau dan Bedjo berasal dari kesatuan yang sama, yaitu pasukan Napindo. Sejak awal pasukan Bedjo―Barisan Pemberontak Republik Indonesia―merupakan yang terkuat karena memiliki persenjataan yang lengkap. Ia kemudian diangkat menjadi pimpinan pasukan Napindo di Medan Utara. Sementara Liberty Malau hanyalah pimpinan pasukan Napindo di Sei Rengas yang merupakan salah satu kelompok pasukan yang tergabung dalam Napindo Medan Timur pimpinan Yakob Tembung (Forum Komunikasi Ex Sub Teritorium VII Komando Sumatera. 1979: 180).

Setelah Agresi Militer Belanda I, pasukan Liberty Malau mundur sampai Rantau Parapat. Belakangan Liberty Malau dan pasukannya kerap disebut Divisi Banteng Negara. Bersama kelompok laskar Napindo lainnya pimpinan Matheus Sihombing, pasukan Liberty Malau hijrah ke pedalaman Tanah Batak dan bergabung ke dalam Komandemen Marsose di Parapat. Kedua eks laskar Napindo ini kemudian menamakan diri Brigade Marsose. Pasukan ini pun kemudian membentuk komando Parapat Area.

          Alex Kawilarang, Penengah Konflik Liberty Malau dan Bedjo             (www.bpn16.wordpress.com)

Sementara itu  Bedjo dan pasukannya merupakan kelompok yang relatif belakangan mengungsi ke pedalaman Tanah Batak. Saat mengungsi mereka bukan lagi bagian dari pasukan Napindo, tetapi telah ditarik menjadi bagian dari tentara republik, Brigade XII.  Bedjo sendiri dipercaya sebagai pimpinan pasukan Resimen I. Pasukan Bedjo masih merupakan salah satu yang terkuat ketika itu. Mereka menjelah ke pedalaman Tapanuli dan menjadi pasukan pengawal Presiden Soekarno ketika sang proklamator berpidato di Balige pada Juni 1948. Sampai saat itu, pertikaian di antara kelompok-kelompok laskar masih dapat diredam (Sirait, 2008).

Setelah Soekarno meninggalkan Tanah Batak, perbenturan kedua kesatuan kembali terjadi. Tak pernah terang sebabnya, begitu pula siapa yang memulai pertempuran itu. Namun yang jelas perbedaan pendapat antara Liberty Malau dan Bejo mulai ketika  pasukan Brigade XII pimpinan Bejo diminta menghadapi kelompok laskar pimpinan Liberty Malau dan Rajin Simamora yang dianggap membangkang terhadap pimpinan militer di Sumatera Utara. Pada awalnya pasukan Liberty Malau unggul. Namun belakangan pasukan Brigade XII dapat membalas setelah memperoleh bantuan dari satuan-satuan pasukan lainnya yang ada di Tanah Batak.

Usaha Hatta

Pertikaian pasukan Liberty Malau dan Bedjo semakin lama semakin berlarut-larut. Pertempuran di antara mereka masih saja kerap terjadi. Usaha negosiasi yang dilakukan pihak militer menemui jalan buntu. Konflik di antara dua pasukan ini baru berakhir ketika Wakil Presiden Hatta turun tangan untuk memediasi perundingan di antara keduanya. Pada awalnya Liberty Malau masih bersikap dingin, sementara Bedjo telah melunak.

Hatta mengabarkan bahwa Belanda akan segera melancarkan serangan lagi. Oleh karena itu perlu segera direalisasikan pembentukan Tentara  dan Teritorium Sumatera. Hatta mengusulkan Kolonel Alex Kawilarang sebagai pimpinannya. Bedjo menyetujuinya, sementara Liberty Malau―yang dijamin oleh Residen Tapanuli Ferdinand Lumbantobing ― juga akhirnya sepakat (Forum Komunikasi Ex Sub Teritorium VII Komando Sumatera. 1979: 228; Sirait, 2008).

Hatta Datang Sendiri untuk Mendamaikan Liberty Malau dan Bedjo   (www.kemlu.go.id)

Akhirnya setelah Tentara dan Teritorium Sumatera terbentuk, ditetapkan pula komandan-komandan sub Teritorium.  Alex Kawilarang ditunjuk sebagai komandan pasukan Sub-Teritorium VII Tapanuli/Sumatera Timur. Baik pasukan Liberty Malau maupun Bedjo tergabung dalam pasukan pimpinan Alex Kawilarang itu. Namun pasukan Bedjo dipindahkan dari Sibolga ke Padang Sidempuan, sementara pasukan Liberty Malau berdinas di Tarutung. Di perantarai jarak yang kala itu terbilang jauh, konfrontasi langsung pasukan Bedjo dan satuan Liberty Malau dengan sendirinya tak berlanjut lagi.

Trailer Film Naga Nonar
(www.youtube.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.