Nasib Buruh Kita dalam Lintasan Zaman

Oleh :  P. Hasudungan Sirait

Ekonomi kolonial Hindia Belanda waktu itu bertumpu pada industri gula. Perkebunan dan pabrik gula di P. Jawa—terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur—menjadi basis ekonomi kolonial, setelah VOC terpuruk dan kaum liberal menggantikan peran mereka. Tak ada lagi sistem tanam paksa kala itu. Politik Etis sudah meminggirkannya. Namun rakyat Pribumi tetap saja melarat. Manisnya gula berbanding terbalik dengan realitas hidup keseharian mereka.

Eskalasi perkebunan-perkebunan tebu untuk mengimbangi permintaan pasar Eropa yang memang menggiurkan, telah memunculkan eksploitasi baru. Seperti dalam setiap sejarah kolonialisme, rakyat kebanyakanlah yang disakrifikasi. Dalam hal ini tanah dan tenaga mereka yang dirampas, lewat pelbagai mekanisme hukum buatan penguasa lokal (pangreh praja) yang bersekongkol  dengan para investor. Secara efektif rakyat Jawa Tengah dan Jawa Timur telah disubordinasikan kepada para industrialis gula yang bermarkas di Amsterdam, Den Haag, dan Gravenhage.

Kaum Pribumi yang tak menjadi aparatus kolonial gerah karena sistem yang menghimpit ini. Petani yang punya tanah tak berdaulat lagi atas miliknya. Buruh tani—kuli kendho, kuli indung atau kuli tlosor –beroleh upah yang kadang tak memadai untuk sekadar makan. Tindak kriminal dengan sendirinya meraja.

Sejarah Panjang Perlawanan Kaum Buruh                                     (Sumber : www.sejarah.kompasiana.com)

Reaksi yang sistematik terhadap keadaan yang memiskinkan ini datang dari serikat buruh pabrik gula, Personeel Fabriek Bond (PFB). Puncaknya adalah ketika organisasi yang di bawah Central Sarekat Islam (CSI) ini melancarkan aksi mogok di sejumlah pabrik gula di P. Jawa pada 1920. Mereka mengerahkan buruh musiman perkebunan tebu (berhimpun dalam Perserikatan Kaoem Boeroeh Oemoem – PKBO) dan petani bertanah (Perserikatan Kaoem Tani, PKT) untuk melumpuhkan industri. Pemogokan dilakukan setelah para manajer menolak berunding dengan PFB yang menuntut perbaikan nasib buruh. PBF dan CSI kemudian menghentikan aksi ini setelah Residen Yogya yang telah dipengaruhi oleh sindikat pabrik gula mengultimatum para pemogok (Bambang Sulistyo, 1995).

Patahnya aksi mogok membuat hubungan PFB semakin retak dengan organisasi payungnya, Vak Central Perserikatan Pergerakan Kaoem Boeroeh. Vak Sentral yang beranggota 44 organisasi buruh, oleh Suryapranoto (Ketua PBF) dianggap tak sepenuh hati menyokong aksi mogok. Suryapranoto sebenarnya merupakan wakil ketua Vak Sentral. Ketuanya Semaun. Suryapranoto menuduh SI cabang Semarang dan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) sengaja menggembosi PFB dan SI. Klimaksnya, SI Semarang menyatakan keluar dari SI setelah membentuk Perserikatan Komunis di India (PKI) bersama ISDV Mei 1920. Untuk selanjutnya mereka menjadi seteru, dalam bingkai komunis dan Islam.

Setelah aksi PFB ini tak pernah ada lagi pemogokan semesta atau sepulau, di negeri ini. Aksi yang digelar Muchtar Pakpahan dkk. (SBSI) di Medan memang akbar kalau dilihat dari jumlah massa tapi secara geografis jauh  terbatas.  Tentu saja tidak adanya aksi semesta bukan berarti persoalan buruh kini sudah beres. Tidak. Timbunan masalah perburuhan ada di mana-mana, di negeri kita. Persoalannya, buruh kini jauh lebih tidak leluasa. Sebab keadaan lebih represif. Kalau di awal abad ke-20 itu mereka punya pilihan 44 organisasi resmi, kini tinggal satu: F-SPSI. Kalau mereka ikut SBSI atau organisasinya Dita Indahsari (PPBI—Pusat Perjuangan Buruh Indonesia) siaplah ditindas. Muchtar dan Dita sendiri dibui. Sampai Presiden Bill Clinton perlu mempermasalahkan nasib Muchtar waktu bertemu Soeharto di  APEC Kanada kemarin.

Tetap Berjuang Melawan Penghisapan                                            (Sumber : Rommy Pujianto, www.mediaindonesia.com)

Mogok masih menjadi senjata perjuangan buruh yang paling efektif. Itu disadari juga oleh kaum buruh sekarang. Masalahnya, mereka tak sebebas buruh industri gula pada 1920. Sebab, mogok kini sudah diatur undang-undang. Jadi, ruang gerak buruh sekarang memang jauh lebih sempit. Begitupun, mereka niscaya akan  terus bergerak menuntut haknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.