Tragik Amir Hamzah

Pekan barusan aku 5 hari penuh di kitaran Padang Bulan, Medan. Kalau saja lintasannya tak kelewat acap dibekap kemacetan, tak sampai setengah jam saja sebenarnya berkendaraan dari kawasan ini ke Binjai. Jaraknya sekitar 22 Km saja. Binjai, kota yang dulu identik dengan rambutan merah besar nan manis-lekang [ngelotok], adalah tanah kelahiran dan kematian penyair besar Tengku Amir Hamzah. Continue reading

Perjalanan 17 Tahun Silam: Napak Tilas Bersama Pramoedya A Toer di Blora (Tulisan-enam/habis)

Jumat, 12 Desember 2003

Ini adalah hari terakhir kami di Blora. Bangun pagi, mandi dan bersiap kerja serba lebih awal. Kami berbagi tugas. Aku dan Has mewawancarai Pram di depan rumah soal rumah yang dibangun Pak Toer, masa kanak-kanak mereka di sana, dan yang lain. Rhein dan Amang menyiapkan setting wawancara dengan Bu Oemi. Continue reading

Perjalanan 17 Tahun Silam: Napak Tilas Bersama Pramoedya A Toer di Blora (Tulisan-lima)

Kamis, 11 Desember 2003

Kami bangun lebih cepat karena Rhein dan Amang akan selekasnya ke sekolah. Mandi dan sarapan serba kilat. Pukul 07.45 keduanya berangkat. Aku dan Has bertugas melobi Pak Coes dan Pram. Tak sulit bagi kami menjelaskan rencana ke Pak Coes karena orangnya memang kooperatif. Yang berat adalah menghadapi Pram. Sengaja kami tak memberitahu rencana ke dia kemarin. Continue reading