Pembungkam Itu Bernama SLORC

Oleh :  P. Hasudungan Sirait

Kampus Universitas Rangoon yang besar dan asri itu lengang. Hari itu hanya segelintir mahasiswi yang tampak. Mahasiswa tak satu pun. Para mahasiswi datang untuk urusan peminjaman buku. Lebih setahun kampus ini ditutup pemerintah; yang dibuka perpustakaannya saja.

Film The Lady, Kisah Perjuangan Aung San Suu Kyi
(Sumber : www.telegraph-news.com)

Bangku-bangku ditumpuk di meja baca perpustakaan. Buku-buku yang umumnya terbitan tahun ‘70-an dan ‘80-an ditumpuk asal-asalan di rak-rak kayu. Sebagian bahan bacaan itu bergeletakan di lantai bersaputkan debu dan ada yang dimakan rayap. Sarang laba-laba ada di mana-mana. Suram, itulah kesan di sana. Pemandangan ini bisa mengingatkan orang pada gedung pengadilan yang digambarkan Kafka dalam novel Trial yang termashyur itu.

Dua profesor emeritus bercakap sembari menunggu urusan peminjaman buku beres. Mereka adalah guru-murid yang kemudian menjadi kolega. Sang guru, ternyata turut merintis pembukaan dan mengasuh fakultas kehutanan  di UGM tahun   ‘50-an-’60-an. “Kami miskin, ya ucap sepuh yang usianya berkepala 8 itu. Sambil tersenyum ramah, dia menolak berbicara politik. Ia hanya mengatakan “Anda bisa melihat dan menilai sendiri”.

Sejak berkuasa tahun ‘62, rezim militer Burma selalu awas terhadap kampus dan sekolah. Apalagi kampus terkemuka seperti Universitas Rangoon alias Yangon ini. Sebab, memang dari pusat-pusat pendidikan inilah perlawanan terhadap mereka muncul, selain dari biara. Ribuan orang yang tewas dalam sejumlah demonstrasi di negeri ini kebanyakan mahasiswa. Kata pengamat, tentara takut terhadap kaum terdidik sehingga mereka lebih suka menempuh cara gampangan: menghamburkan pelor dan menusukkan sangkur.

Isu tentang Burma atau Myanmar kurang populer di Indonesia. Padahal Indonesia terkenal di sana. Myanmar menganggap Indonesia saudara tua. Para pengamat menyebut penguasa negara itu, SLORC, selama ini menjadikan Indonesia sebagai model untuk politik. Partai berkuasa, Uni Solideritas dan Asosiasi Pembangunan Burma, meniru Golkar dan transformasi SLORC baru-baru ini menjadi SPDC adalah untuk memantapkan pola dwi-fungsi. Entahlah. Yang pasti perhatian negeri tersebut terhadap Indonesia memang istimewa. Dalam keterbatasan saluran TV mereka, siaran Indosiar misalnya bisa ditangkap secara utuh di sana. Majalah wanita terbitan Jakarta bisa didapat di pasar loak setempat. Tak jelas apakah sudah mulai banyak rakyat negeri itu yang sudah bisa berbahasa Indonesia.

Kalau demikian adanya, berarti cinta Myanmar ini agak berat sebelah. Sebab Indonesia bersikap biasa-biasa saja. Penduduk Jakarta saja misalnya, niscaya tak tahu banyak soal anggota baru ASEAN itu. Mungkin hanya sebatas sarung, beras, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian enam tahun silam (1991) Aung San Suu Kyi, atau penggulungan secara kejam aktivis prodemokrasi di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.