Pesta Adat, Panggung Kesuksesan Kaum Perantau Batak di Jakarta

Penulis : Teguh V. Andrew

Teriknya matahari seolah membakar bumi Jakarta siang itu. Semilir angin yang bertiup tak tentu waktu bukannya memupus kegerahaan barang sebentar, malah menerbangkan butiran-butiran pasir yang memerihkan mata para pejalan kaki. Untungnya, hari itu akhir pekan. Jadi tak banyak orang yang lalu-lalang di pinggir jalan besar itu.

Dari kejauhan terlihat sebuah Metromini melaju dengan kencangnya. Tiba-tiba kendaraan bobrok berwarna oranye ini berhenti persis di sisi jalan besar yang berpasir. Dari dalam bus itu lamat-lamat keluar sepasang suami-istri berpakaian resmi.

Sang pria, ia telah berumur, mengenakan setelah jas lengkap dan sepatu kulit yang disemir hingga mengkilat. Dari kantung kemejanya ia mengeluarkan selampai untuk mengusap peluh yang membajiri seluruh wajah. Setelah itu, ia mengeluarkan sisir kecil dari kantung belakang celana untuk menata rambut klimisnya yang sedikit berantakan.

Sang istri mengenakan kebaya dan sarung yang terlihat serasi dengan sepatunya yang  berhak tinggi. Wajah perempuan berusia 50-an tahun itu menor akibat lipstik merah delima yang sangat tebal. Rambutnya disasak tinggi dan ditempeli sanggul berhiaskan konde emas imitasi di bagian belakang. Kilauan giwang di telinga dan cincin di jari-jari yang gemuk merupakan penggenap kehebohan tampilan dirinya.

Berjalan Menuju Gedung Pesta (Gambar : Dokumentasi Pribadi)

Tak jauh dari pinggir jalan nan berpasir tampak sebuah gedung pertemuan bercat putih berasitektur moderen. Bangunan itu megah lagi kokoh dengan tiang-tiang raksasa yang mengelilinginya. Jelas, sebuah isyarat kemakmuran.  Di halamannya terhampar mobil parkir. Dari buatan Jepang hingga Eropa; tak kurang seri terbaru.

Papan ucapan selamat berbahagia  dari perusahaan-perusahaan ternama dalam dan luar negeri berjejer rapi di halaman. Tampak gerombolan orang di halaman depan. Mereka ada yang sedang bercakap. Ada pula yang baru turun dari mobil atau menunggu kenalan-kerabat.

Pasangan suami-istri itu melangkah mengarah ke kerumunan. Seperti selebriti kondang, keduanya menapak seirama sambil sesekali melempar senyum entah ke siapa. Setelah melewati berbagai papan ucapan selamat yang panjangnya hampir setengah kilometer, mereka sampai di pintu depan gedung pertemuan. Setelah mengisi buku tamu mereka ternyata harus menunggu giliran masuk sesuai aturan adat.

Giliran mereka untuk masuk akhirnya tiba. Bagian dalam ruangan berbentuk persegi panjang itu terasa sejuk, kontras dengan cuaca Jakarta yang panas menyengat. Kegerahan keduanya sirna hanya dalam hitungan di bawah lima menit. Puluhan meja makan berbaris rapih di kiri dan kanan. Di tengahnya terdapat karpet merah yang merupakan jalan menuju pelaminan.

Suara pembawa acara terdengar nyaring mengiringi tetamu yang baru datang. Memberi selamat kepada kedua mempelai dan keluarganya, itu yang lazimnya  dilakukan tamu sebaik tiba. Namun ada saja dari mereka yang langsung mengeluyur ke meja makan yang telah disusun  sesuai hubungan kekerabatan.

Keriuhan Pesta Batak (Gambar : Dokumentasi Pribadi)

Acara setelah menyambut pengantin adalah makan siang. Saat yang lain berdoa bersama selalu ada saja tetamu yang sedang atau telah usai mengganyang hidangan khas Batak yang tersaji di meja. Lapar, itu alasan klasik mereka.

Beberapa menit setelah acara makan terbuka kesempatan untuk menjambangi mempelai.  Menyalami dan berfoto dengan pengantin, itu yang akan dilakukan tetamu.

Bagian terpanjang dari perhelatan adalah prosesi adat. Sesuai kedudukannya di pesta, para undangan akan mendapat giliran maju bersama untuk memberikan ulos kepada mempelai. Saat maju, setiap pimpinan rombongan akan mengucapkan sepatah-dua kata kepada raja-ratu sehari. Musik menjadi pengiring   penting selama prosesi adat ini. Diiringi kibor dan perangkat musik tradisional Batak, kelompok penyanyi akan melantunkan macam-macam lagu mengiringi setiap rombongan yang tiba giliran untuk maju.   Tak hanya lagu Batak dan lagu gereja, lagu ‘asing’ pun akan mereka mainkan. Dangdut, poco-poco, sajojo, Spanyol, di antaranya.

Biasanya tetamu—dari yang tua hingga yang belia—akan menggoyangkan badan turut irama tanpa malu-malu. Terlebih yang perempuan.  Sekalian melemaskan otot tubuh, itu tujuannya.

Berebut Rezeki Sawer (Gambar : www.adatbataktoba.davidsigma.com)

Ketika sebuah lagu Batak tradisional yang ceria  dimainkan, secara spontan para kerabat dekat mempelai akan maju meninggalkan kursinya menuju sebuah tempat lapang yang telah disediakan. Di sana mereka menari tortor ikut irama. Semakin cepat ritme lagu, kian   bersemangat pula gerakan tubuh mereka. Di saat itulah keluarga si empunya hajat akan menyawer. Kalau keluarga itu bukan orang berada maka sawerannya kecil saja: mulai dari seribu hingga sepuluh ribu. Bila mereka makmur uangnya pun akan besar. Yang manortor akan bersemangat bila melihat uang yang dibagikan itu pecahan uang dua puluh ribu, lima puluh ribu, atau seratus ribu. Akan saling berebut untuk mendapatkan, mereka.  Maklum, jumlah uang saweran, bagaimanapun, pasti   terbatas.

Begitulah hiruk-pikuk pesta adat Batak di Jakarta setiap akhir pekan. Hampir setiap Jumat dan Sabtu acara semacam ini berlangsung di berbagai gedung pertemuan. Alhasil, dalam sehari di akhir pekan itu keluarga Batak bisa mendapat undangan beberapa sekaligus. Kalau sudah begini seleksi  harus dilakukan. Toh akan repot betul kalau harus hadir di tiga atau empat pesta sekaligus di tempat berbeda pada hari yang sama. Pertimbangan dalam seleksi tentu adalah  kedekatan hubungan kekerabatan. Pula kedudukan sosial si pengundang.

Panggung kesuksesan

Tak syak lagi, pesta adat Batat telah berkembang menjadi panggung kesuksesan kaum migran Batak di Ibukota. Mereka yang datang akan menampilkan segala hal yang terbaik yang mereka miliki. Mulai dari busana, perhiasan, hingga mobil yang terparkir rapi di luar gedung pertemuan. Menunjukkan kepada sesama manusia Batak perantau buah kerja keras sekian lama yaitu kesuksesan, kekayaan, dan kemakmuran. Demonstrasi mereka lakukan secara telanjang atau tersirat. Ekornya, secara otomatis strata sosial pun akan nyata.

Narasi tentang kisah keberhasilan kaum migran Batak di Ibukota yang tercitrakan dalam pesta-pesta adat Batak merupakan secuplik kisah dari praktik migrasi yang telah dilakoni manusia-manusia Batak sejak akhir abad ke-19. Pada awalnya di tanah perantauan mereka menghadapi berbagai permasalahan. Seiring dengan keakraban dengan tanah rantau yang bertambah, perlahan tapi pasti mereka akan kian  cekatan menghadapi puspa rintangan.

Bersama kelompok migran lainnya, mereka yang cekatan ini akan menapaki kesuksesan di Ibukota. Prestasi mereka akan melahirkan efek multiplier. Mencoba meniru, berbondong-bondonglah kawan sedaerah datang ke Jakarta dengan satu tujuan:  menggapai sukses serupa.

Di rantau tentu ada yang berhasil dan tidak sedikit pula yang kandas. Itu sudah hukum alam. Batak yang tak beruntung akhirnya hanya sekadar bertahan hidup di Ibukota yang konon lebih kejam dari ibu tiri. Di pesta adat yang serba glamor itu kedudukan mereka pastilah marjinal. Pasangan suami-istri yang turun dari metromini tadi contohnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.