Sensasi Santapan Lezat di Jalan Suryakencana Bogor

Oleh Rin Hindryati P

Ada apa saja yang menarik di Bogor? Yang pasti ada Kebun Raya dan Istana Bogor yang merupakan ikon kota ini sejak zaman dahulu. Akhir-akhir ini Bogor juga menjadi salah satu tujuan wisata kuliner dan pusat oleh-oleh khas macam  asinan, roti unyil,  apple pie  dan makaroni panggang. Ada pula factory outlet yang tersebar di sepanjang Jl. Raya Pajajaran (satu tempat lagi yang sedang naik  daun ada di Jl. Pandu Raya), yang menjadi alasan sebagian orang datang ke kota ini. Jangan lupakan satu lagi: sentra pembuatan tas Tajur yang menjadi pemikat kalangan tertentu, terutama perempuan.

Tempat-tempat bersantap atau berbelanja ini padat  terutama saat week-end dan ‘tanggal muda’. Itu sebabnya kami enggan melintasinya di masa ramai tersebut. Masalahnya, setiap Sabtu kami harus ke luar rumah untuk mengantar kedua anak les piano. Alhasil ikut terjebak pula dalam kemacetan. Apalagi tempat kursus mereka, Yamaha Musik Indonesia, ada di  Ekalokasari  yang selalu ramai saban akhir pekan. Acap, mencari tempat parkir saja di mall ini menjadi perjuangan tersendiri kalau sudah Sabtu. Whuih!!!

Jalur utama Jl. Raya Pajajaran, sepanjang Sabtu dan Minggu selalu sesak oleh mobil berpelat B (Jakarta). Antrian panjang kendaraan yang keluar masuk toko roti unyil, Venus, yang berada persis sebelah mall Ekalokasari, misalnya,  menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Kebanyakan pengunjung menyasar tempat yang itu-itu: factory outlet atau toko sepatu dan tas. Satu lagi,  toko oleh-oleh penganan.  Lantas, sebelum kembali ke Jakarta,  mampir untuk mengisi perut di  restoran atau warung yang bertabur di kitaran jalur utama. Tak banyak dari mereka  yang meluangkan waktu mengunjungi Kebun Raya Bogor untuk melongok koleksinya yang sesungguhnya istimewa. Hmm..

Kami sendiri, yang tinggal di Bogor, merasa beruntung.  Di hari biasa, ada saja hal baru yang bisa kami lakukan di sentra talas yang baheula berjulukan ‘kota hujan’.  Menjajal sajian di warung-warung  pinggir jalan di sepanjang Jl. Suryakencana, pecinan tua yang masih awet hingga kini, misalnya. Atau sekadar duduk-duduk di bawah pohon rindang di Taman Koleksi persis di halaman depan kampus lama (kini kampus pasca sarjana)  IPB. Aku akan bercerita tentang kelebihan Suryakencana sebagai tempat mengisi perut.

Di Bogor ada ratusan tempat makan yang bisa jadi pilihan kita. Restoran banyak. Warung tenda juga berlimpah. Adapun favorit kami sekeluarga masih tetap pecinan di Jalan Suryakencana. Orang Jakarta pun banyak yang akrab dengan tempat yang satu ini.

Jalan Suryakencana, Pecinan sekaligus Surga Makanan di Bogor
(www.gieuma.blogspot.com)

Berjalur satu arah, titik awalnya ada di persimpangan dekat  gerbang utama Kebun Raya Bogor, Pasar Bogor. Sungguh menawarkan sensasi, rupa-rupa makanan ada di sana. Mulai dari rujak uleg, nasi goreng, soto, hingga mie. Ada yang berlabel halal, ada yang tidak.  Bakery, soto mie, baso,  ngohyang, asinan, laksa, toge goreng tersedia.  Pun camilan seperti pisang goreng, misro, combro, gemblong, lumpia basah, bakpia dan bakpau mini. Pisang goreng dan combro yang top ada di jalan Ranggading, dekat supermarket Ngesti.

Hampir seluruh sudut di kawasan Suyakencana sudah kami jelajahi. Suatu waktu, misalnya, kami ke sana untuk mencari kedai toge goreng Ibu Epon.  Menurut buku kuliner yang kami baca, Ibu Epon sudah berjualan kudapan ini lebih dari 40 tahun. Disebut di kitab itu:  toge goreng Ibu Epon beralamat di Suryakencana, belakang Bank Lippo. Sesuai petunjuk di buku, kami pun menelusuri jalan dengan menapak.  Bagi kami yang bukan ‘asli’ Bogor, ternyata tak mudah menemukan tempat dimaksud. Setelah tanya sana-sini, akhirnya sampai juga. Kecil dan bersahaja tempatnya, namun eksotik. Kayu bakar dan anglo masih dipakai. Daun pisang juga, sebagai wadah bahan masakan dan sajian jadi. Asap kayu bakar yang senantiasa mengepul menjadi pemandangan yang mengguratkan kealamian.

Proses Pembuatan Toge Goreng Ibu Epon                        (www.makanlagimakan.wordpress.com)

Toge goreng yang berunsurkan toge, tauco, tahu, mie dan kecap ini cukup lezat. Hanya saja masih asing di lidahku, suami dan kedua anak kami.  Ini tentu persoalan selera saja. Bagi Anda mungkin lebih klop.  Walaupun menyukai keeksotikannya, sejak kunjungan perdana itu kami belum pernah bersantap lagi di sana. Kali lain pasti kami akan ke sana.

Lain toge goreng Ibu Epon, lain pula nasi goreng Guan Tjo. Bagi kami,  yang terakhir ini ngangenin. Anak-anak kami suka dan selalu lahap jika bersantap di sana. Adanya sudah sejak 1960. Awalnya di kaki lima Pasar Bogor, tahun  1962 pindah ke tempat sekarang. Tiga generasi sudah yang mengelola warung ini. Yang menarik dari sajiannya?  Nasi gorengnya kering seperti tak berminyak. Bumbunya pas di lidah;  tidak mblenger, kata orang Jawa. Selain nasi goreng ayam (tanpa atau dengan pete), tersedia juga sate (daging, ginjal, sum-sum dan hati). Pula bubur kacang ijo dan ketan item yang tak kalah lezat.

Kalau ingin makanan yang tidak terlau berat, biasanya kami mampir ke Bakmi Tasik. Tempatnya  di bangunan kuno bergaya arsitek Tionghoa. Menurut catatan di sebuah buku kuliner, kedai mie yang hanya muat 5 meja ini sudah berumur lebih dari 25 tahun. Kami suka warung mungil ini karena cita rasa sajiannya orisinal. Terlebih sambal dan saosnya. Bakmi Tasik sungguh perpaduan yang pas citarasa Cina dan Sunda.

Satu lagi tempat yang selalu memanggil kami untuk datang adalah soto Pak Salam. Di sana Anda memilih sendiri isi dari mangkok yang diisi kuah kuning nan harum. Tulang muda, babat, empal dan aneka jeroan (paru, otak, usus, ati dan limpa), alternatifnya. Kedai soto kali lima yang kini dijalankan oleh putra Pak Salam, Kang Maman, buka setia hari sejak pukul 16.00. Saking larisnya, jika Anda datang di atas pukul 16.00 akan berisiko tak kebagian. Pelanggan sudah ada yang  menunggu  sebelum lapak beroperasi. Yang jadi favorit pelanggan adalah tulang muda (yang sesungguhnya adalah urat sapi) dan babat jarit yang akan disirami kuah soto. Walau jajanan ini relatif ‘berat’, terasa ‘ringan’ saja di mulut sebab  bumbunya tak  berlebihan. Santannya tak kental. Overall terasa pas di mulut. Buktinya para pelanggannya sungguh ‘militan’.

Masalahnya hanya satu di soto Pak Salam: tak tahan mengantri. Karena sistemnya prasmanan, Anda harus berebut dengan pelanggan lain yang cenderung nggragas seolah takut kehabisan. Tipe manusia tertib seperti aku, sulit bersaing dengan pelanggan lain yang lebih gigih dan ‘beringas’. Kebanyakan pelanggan berebut  mengambil tulang muda atau babat sehingga dua sajian ini selalu ludes lebih awal.  Kalau sudah agak chaos dan merasa tak sanggup lagi bersaing atau malas mengantri, kami biasanya beringsut ke  tempat lain. Toh masih ada hari esok. Kan kami tinggal di Bogor….

Rela Mengantri demi Semangkuk Soto Pak Salam                                            (www.makanlagimakan.wordpress.com

Soto Pak Salam lokasinya tak jauh dari Gang Aut yang merupakan salah satu sentra makanan kaki lima di Bogor. Di dekat soto Pak Salam ada bakery shop de Paris yang cukup legendaris di Bogor. Bakpianya juara deh;  pun roti lainnya. Semuanya selalu fresh. Ada juga di sana tempat makan Ngohiang khas Bogor. Santapan ini merupakan campuran acar lobak dan wortel, tahu, rolade ayam/babi, dan kentang rebus. Bahan ini lalu disirami  saus kacang yang dicampur dengan tepung sagu. Masih dekat Gang Aut, ada soto mie Agih. Yang satu ini untuk peminat non Muslim.

Kalau masih belum kenyang juga, di Gang Aut tersedia  pelbagai soto, bubur ayam dan sate. Pula  combro dan misro yang nikmat.  Kalau  sekadar mau minum, di sini ada macam-macam pilihan. Salah satu yang top adalah es cincau hijau Mang Obing. Sudah lebih dari 10 tahun Mang Obing berjualan di sana. Bila mau  es mangga atau es pala,  datangilah gerobak Koh Aming. Atau suka yang agak berbeda? Jajallah bir halal alias bir kocok Mang Acep yang terbuat dari ramuan jahe, kayumanis dan cengkeh.

Jadi,  walau tak kebagian soto Pak Salam karena kalah cepat atau ogah antri, kami masih bisa menikmati jajanan di seputaran Jl. Suryakencana. Satu hal yang pasti, kami selalu membeli bakpia toko roti de Paris dan misro-combro goreng di dekat ATM BCA. Juga rujak sedap di depan Ngesti.

Tak cukup kalau cuma mendapat cerita; biar lebih konkrit Anda pun perlu menjajal. Selamat mempertualangkan lidah di seputar Jl. Suryakencana.

2 thoughts on “Sensasi Santapan Lezat di Jalan Suryakencana Bogor

  1. Pingback: Presiden Jokowi Ajak Cucu Liburan di Bogor, Inilah Asiknya Berlibur di Kota Hujan! | Blog Permata Bogor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.